Profil

SEJARAH PERKEMBANGAN PPDS PULMONOLGI

 SEJARAH

Sejarah perkembangan pendidikan dokter paru di Indonesia bermula sejak pendidikan dokter pertama di Indonesia pada jaman Belanda.Penyakit paru telah alma dikenal di Indonesia,bahkan tergambar pada relief candi Borobudur.Pada tahun 1851,pemerintah Hindia Belanda mebuka sekolah Dokter Jawa di Indonesia yang lulusannya bergelar Dokter Jawa.Sekolah ini kemudian diubah menjadi STOVIA pada tahun 1902.Gelar dokter jawa diganti namanya dengan Indische Arts.Pemerintan Hindia Belanda kemudian mendirikan sekolah kedokteran lagi yang bernama NIAS (Nederlandsch Indische Artenschool) pada tahun 1913 di Surabaya Perubahan kurikulum pendidikan dokter terjadi beberapa kali pada jaman Belanda.Sampai dengan tahun 1941,telah dihasilkan 324 Indische Artsen.

Pada tahun 1908,Pemerintah Hindia Belanda membentuk suatu perkumpulan , dinamakan Centrale Vereeniging voor Tuberculose Bestrijding (CVT) yang kemudian diubah menjadi  SCVT (Stichting Centrale Vereniging voor Tuberculose Bestrijding)pada tahun 1930 sebagai upaya pemberantasan penyakit tuberculosis yang diketuai oleh Mvr.de Jonge(istri Gubernur Batavia saat itu)SCVT berhasil mendirikan 15 sanatorium besar dan kecil terutama di Jawa dan Sumatra(Cisarua, Ngawen Batu, dll)serta mendirikan 20 Consultatie Bureau (CB) yenag tersebar terutama di Pulau Jawa.Dokter umum saat itu dilatih oleh radiolog untuk mendeteksi TB Paru dengan pemeriksaan dooorlichting atau saat ini dikenal dengan istilah fluoroskopi.Setelah mahir mereka bekerja di CB untuk mengobati pederita termasuk yang dikirim oleh radiolog karena dugaan TB paru.Dokter CB ini, awalnya diberi gelar Longarts atau dokter paru-paru.(long=paru,arts = dokter) Longarts berkebangsaan Indonesia ada jaman Belanda antara lain Prof.JC.Kapitan,Dr.Agus dan Prof.HR Suroso.Dalam perkembangannya SCVT kemudian berubah Yayasan Pemberantasan Penyakit Paru di Indonesia (YP3I)pada tahun 1956.

Pada jaman Jepang sekitar tahun 1942,pendidikan dokter di Indonesia hampir tidak ada perkembangan ,semua fasilitas tidak berfungsi,tidak ada pendidikan bahkan tidak menghasilkan Longarts baru.Saat itu terjadi penutupan sekolah baik STOVIA maupun NIAS dan Jepang membuka lagi sekolah dokter yang diberi nama Ika Daigaku.

Pada jaman kemerdekaan, sekolah kedokteran Jepang Ika Daigaku diambil alih oleh pemerintah Republik Indonesia kemudian diubah nama menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia.Perguruan tinggi ini dipecah di empat lokasi yaitu di Jakarta, Solo, Klaten dan Malang. Hal ini merupakan awal berdirinya pendidikan dokter di Solo.Saatagresi Militer 1948,Belanda menutup Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia di Malang,Solo dan Klaten lalu membuka pendidikan dokter lagi yaitu Faculteit der Ganeeskunde di Jakarta dan Surabaya,dimana sekolah tersebut kemudian diserhkan kepada Pemerintah Republik Indonesia setahun setelahnya.Pada tahun 1949,nama sekolah ini diubah menjadiFakultet Kedokteran.Pendidikan dokter di Jakarta dilaksanakan  di Centraal Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ sekarang RSCM)pada tahun 1954-1960,dibawah pimpinan dr.Oey Tjin Siang.Pada awal masa kemerdekaan ,jalur lain pendidikan Dokter Paru ialah menjadi asisten Dokter Paru,yang kemudian mendapat pengakuan Menteri Kesehatan   saat itu yaitu dr. Soepandi Moekajin.


BERDIRINYA PERHIMPUNAN DOKTER PARU (PDPI) JAWA TENGAH DAN KARISEDENAN SURAKARTA

 

Berdirinya Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)

            Pada tahun 1974, Dr. Rasmin Rasjid mengadakan rapat pembentukan perkumpulan dokter paru. Rapat tersebut dihadiri oleh 20orang dokter ahli penyakit paru. Hasil rapat saat itu dibentuklah IDPI (Ikatan Dokter Paru Indonesia) dan diresmikan olehKetua IDI, Prof. Dr. dr. Oetoyo Soekaton. Pada perkembangannya, IDPI kemudian berubah menjadi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Tahun 1975 Bagian Paru dinyatakan sebagai Bagian tersendiri di FKUI yang disebut Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI  setelah sebelumnya menjadi bagian dari ilmu Penyakit Dalam.

PDPI Jawa Tengah berdiri tahun Januari 1974 yang oleh karena jumlah dokter paru semakin bertambah dan karena pusat pendidikan  Dokter Spesialis Paru berada di Solo, maka pada tahun 2006 berdirilah PDPI Cabang Surakarta. PDPI Jateng meliputi jawa Tengah diluar Solo Raya.

PENDIDIKAN DOKTER PARU SOLO

Pendidikan Dokter Spesialis Dokter Paru Solo

Pendidikan dokter spesialis Pulmonologi dan kedokteran Respirasi di Solo mulai menerima peserta sejak tahun 2005 berdasarkan SK Direktural Jenderal Pendidikan Tinggi No.3002/D/T/ 2004 tanggal 4 Agustus 2004, yang sebelumnya masih menginduk di FK UI yang dimulai tahun 1997 Selama Pendidikan dokter Spesialis Pulmonologi dan Kedoteran Respirasi FK UNS mendapatkan akreditasi B dari Kolegium untuk tahun 2011-2015, dengan Nomor : 03/KPI/XII/2011.